Senin, 07 Maret 2011

Novel Bukan Pasar Malam

Kedekatan Aku Sebagai Anak Laki-Laki Pertama

dengan Keluarganya

dalam Novel Bukan Pasar Malam Karya Pramoedya Ananta Toer

A. Pengantar

Ada hal menarik yang dapat dikupas dari diri tokoh Aku dalam novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer ini. Tokoh Aku memiliki kedekatan yang luar biasa dengan keluarganya terutama dengan ayah dan adik-adiknya. Sebagai anak tertua memang dia memiliki tanggung jawab yang besar terhadap keluarganya. Hal ini telah dibuktikannya dengan menjadi anak dan kakak yang baik bagi ayah dan adik-adiknya.

Kedekatan tokoh Aku dengan keluarganya didasari atas rasa cinta dan kasih yang besar kepada keluarganya. Meskipun dia berada jauh dari keluarganya, dia tetap mengikuti perkembangan kehidupan kelurganya. Dia memiliki hubungan yang sangat harmonis dengan kelarganya terutama dengan adik-adiknya. Bahkan dia pernah menentang keputusan ayahnya yang tidak membawa salah satu adiknya yang terserang penyakit TBC ke rumah sakit. Dia akan tetap menjadi kakak terbaik bagi adik-adiknya dan akan selalu menjadi panutan bagi semua adiknya.

Kedekatan tokoh Aku dengan keluarganya merupakan hal yang patut untuk diungkap. Keharmonisan hubungan keluarga ini terjalin dari masa kecil tokoh Aku hingga saat dewasa bahkan saat dia menjadi tawanan penjajah. Keharmonisan itu pun ditunjukkan dengan perhatian yang besar oleh tokoh Aku kepada keluarganya. Jalinan hubungan itu dijalani tokoh Aku sebagai tanggung jawab dan keharusan bahkan sudah menjadi adat istiadat yang harus selalu dipupuk sebagai akibat dari posisinya menjadi anak laki-laki tertua.

B. Anak Laki-Laki Pertama dalam Keluarga Menurut Budaya Jawa

Dalam masyarakat Jawa anak laki-laki menjadi anak yang diidam-idamkan bagi setiap keluarga. Terutama anak laki-laki sebagai anak pertama di keluarga. Mangundiningrat mengatakan bahwa kelahiran seorang anak laki-laki selalu disambut dengan suka cita bahkan dengan penuh persiapan, yang tentu berbeda dengan kelahiran seorang anak perempuan. Menurut mitologi Jawa anak laki-laki merupakan pemimpin yang akan melindugi keluarganya. Dia akan menjadi pengganti ayahnya dalam menjaga dan melindungi seluruh anggota kelurganya. Karena anak laki-laki merupakan putra mahkota dalam keluarga terutama dalam masyarakat Jawa. Anak pertama laki-laki akan menjadi panutan bagi adik-adiknya. Dialah yang akan menggantikan posisi orang tuanya terutama ayahnya ketika mereka meninggal.

Seorang anak laki-laki akan mendapatkan kesempatan pendidikan (bersekolah) yang lebih besar daripada anak perempuan. Dia juga memupunyai tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga kehormatan orang tua dan keluarga. Jika seorang anak laki-laki berhasil maka dia akan menjadi kebanggaan bagi orang tuanya. Tidak hanya itu saja dalam hak waris pun seorang anak laki-laki juga mendapatkan bagian yang lebih banyak daripada anak laki-laki.

Sebagai anak tertua, seorang anak terutama anak laki-laki memiliki tanggung jawab untuk melindungi adik-adiknya. Hal itu sudah menjadi adat istiadat atau budaya yang hidup dalam masyarakat Jawa. Dalam kerajaan pun hanya anak laki-lakilah yang dapat menggantikan posisi ayahnya sebagai raja. Yang mempunyai peluang besar untuk menjadi putra mahkota adalah anak laki-laki yang pertama. Namun, tanggung jawabnya sebagai anak tertua pun besar.

Seorang anak tertua harus bisa menjadi pelindung bagi adik-adiknya. Tidak hanya itu dia pun harus memiliki kedekatan dengan adik-adiknya. Dia harus bisa berperan sebagai seorang kakak dan juga sahabat bagi adik-adiknya. Seorang kakak pun mempunyai tugas untuk memperhatikan perkembangan adiknya. Dia juga harus bisa memberikan nasihat kepada adik-adiknya. Sebagai seorang sahabat dia bisa menjadi tempat curhat bagi adik-adiknya karena dia merupakan orang yang dipercaya bagi adik-adiknya. Sebagai seorang sahabat dia tidak bertindak sebagai orang tua ataupun kakak yang harus dihormati dan disegani, tetapi dia adalah sahabat yang bisa menjadi pendengar atas keluh kesah yang diceritakan padanya. Dia bukan orang yang memberikan keputusan atas masalah yang dihadapi adik-adiknya, tetapi dia hanya bisa memberikan alternatif-alternatif atas masalah yang sedang dihadapi adiknya.

C. Kedekatan Tokoh Aku dengan Ayahnya

Tokoh Aku sebagai anak pertama memiliki hubungan yang sangat harmonis dengan ayahnya. Hal ini terbukti dari kebiasaan surat menyurat antara sang ayah dengan tokoh Aku. Bahkan ketika tokoh Aku dipenjara kebiasaan itu tetap dilakoni oleh ayah dan anak itu. Meskipun tokoh Aku pernah mengirimi surat yang berisi sesuatu yang tidak enak untuk dibaca, sang ayah pun tetap mengkhawatirkan sang anak yang tercermin dari isi surat yang dikirimkan ayah kepada tokoh Aku (hal 7). Karena hubungan harmonis itulah yang yang membuat tokoh Aku menjadi pembawa kebesaran dan kemegahan bagi ayahnya. Hal itu pun didasari karena posisi tokoh Aku sebagai anak tertua (....anak tertua, pembawa kebesaran dan kemegahan bapak.....hal 7).

Kedekatan antara tokoh Aku dengan ayahnya inilah yang membuat tokoh Aku tahu apa yang dipikirkan ayahnya. Hal itu terlihat pada halaman 33, “Aku melihat ayah tersenyum seakan-akan mengucapkan terima kasih atas pemberian pil itu.” Bahkan dalam keadaan diam pun mereka saling mengerti apa yang ada dalam otak mereka. Hal itu digambarkan penulis dalam kalimat berikut ini,

Kami berdiam diri pula. Tapi saling mengerti mengawang di tiap tempurung otak.”

Begitu dekatnya tokoh Aku dan sang ayah membuat tokoh Aku tidak dapat menyembunyikan pertengkarannya dengan istrinya. Sampai-sampai sang ayah pun mengetahui pertengkaran itu sebelum tokoh Aku menceritakan kejadiannya (hal 82).

Apa yang sudah kau pertengkarkan tadi?” tanyanya.

Aku kaget.

Dan nampak betul bahwa ayah sedang memusatkan tenaganya pada suaranya.

“Apa yang kau pertengkarkan tadi?” ulangnya.

Kedekatan seorang ayah dengan anaknya memang seharusnya terjadi. Namun, di dalam masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi unggah-ungguh kesopanan dan rasa hormat kepada orangtua memberikan jarak antara orangtua dengan anaknya. Hal itu semua menjadi berbeda dalam novel Bukan Pasar Malam ini, tokoh Aku memiliki hubungan yang sangat dekat dengan sang ayah, namun tetap menjunjung tinggi kesopanan dan rasa hormat kepada orangtua.

D. Kedekatan Tokoh Aku dengan Adik-Adiknya

Hubungan persaudaraan yang erat adalah sesuatu hal yang sangat membahagiakan. Apalagi tidak ada rahasia antara saudara. Hal itu akan membuat hubungan persaudaraan semakin harmonis. Tidak akan ada jarak antar saudara, begitu juga tidak ada perasaan iri antar saudara. Namun, hubungan itu akan sedikit berjarak jika dihadapkan dengan unggah-ungguh masyarakat Jawa. Dalam masyarakat Jawa orang yang lebih muda harus bersikap sopan pada orang yang lebih tua dan tidak bisa berkata semua saja pada orang yang lebih tua. Dalam hal itu akan terjadi kekakuan dalam hubungan persaudaraan. Seorang adik akan canggung untuk bermanja-manjaan dengan sang kakak. Tetapi, kesemua hal itu tidak berlaku dalam hubungan tokoh Aku dengan adik-adiknya. Tokoh Aku memiliki hubungan yang sangat dekat dengan semua saudara-saudaranya. Sebagai anak pertama dia menjadi tempat bermanja-manjaan bagi semua adiknya. Adik-adiknya pun tetap berlaku sopan dan hormat kepadanya.

Setelah lama tidak bertemu dengan adik-adiknya, tokoh Aku memendam kerinduan yang luar biasa kepada mereka semua. Ketika sampai di rumah, tokoh Aku langsung meluapkan kerinduannya dengan bercengkerama bersama adik-adiknya (hal 24).

Kami duduk-duduk di ruang depan. Adik-adik yang belum dewasa, yang nampak masih liar itu kini mulai mendekati. Dan kami mengobrol panjang tentang Jakarta, tentang Semarang, dan tentang mobil.”

Saat dia tidak melihat salah satu adiknya yang sangat dia cintai dan kurus pikirannya pun menjadi tidak tenang (hal 26, “Dan dalam kepalaku terbayang wajah adikku—dan terbayang dia sudah kurus. Aku tahu, dia sedang sakit.”). Adik yang paling dia sayangi dan yang menyebabkan dia berkata tidak enak kepada ayahnya itu semakin terbayang di pikirannya (hal 27, “...adikku yang ketiga itu terbayang lagi dalam kepalaku. Karena dia jualah aku menulis surat untuk ayah—surat yang pedas karena membiarkan dia sakit. Tapi waktu itu aku masih dipenjara.”).

Tidak hanya dekat dengan tokoh Aku saja, sang adik pun dibuat dekat dengan kakak ipar—istri tokoh Aku. Tidak ada kecanggungan antara sang adik dengan sang istri (hal 27, “ Aku lihat keenam adikku yang sedang merubung kami—aku dan istriku—mulai bebas dari suasana yang kesungguh-sungguhan.”).

Kedekatannya dengan adiknya yang ketiga membuat dia ingin segera bertemu dengan adiknya. Pertemuan itu tidak bisa ditunda lagi. Saat pertemuan pertama antara kakak dan adik yang saling mengasihi terjadi sebuah keharuan yang mungkin bisa membuat menangis orang yang melihatnya. Kasih-kasihan dan curhat tidak pelak lagi terjadi (hal 28).

“Kurangkul dia. Dia menangis dan aku pun menangis............Sekali lagi aku menangis. Sekali lagi dia menangis.”

Tokoh Aku selalu bisa menenangkan hati adiknya yang sedang sedih dan sakit itu. Dia mengucapkan kata-kata yang bisa memberikan semangat hidup pada sang adik (hal 29).

“Engkau masih muda, adikku, dan engkau masih ada harapan punya anak lagi.” Kataku menghibur.

Perhatian dan kasih sayangnya yang sangat besar itu tercurahkan pada malam itu (hal 29).

Kuperbaiki letak selimutnya itu. Kucium adikku itu pada pipinya. Berkata:

“Tidurlah.”

Ditariknya lengannya dari matanya. Ia sudah tenang sekarang. Pelahan-lahan ia mengatupkan tapuk matanya. Sekali lagi kucium pipinya yang dulu montok dan kini kering itu. Kemudian kutinggalkan kamar itu.

Tokoh Aku mempunyai kedekatan dengan semua adik-adiknya bahkan dengan adiknya yang paling kecil, meskipun mereka sudah lama sekali tidak bertemu. Saat tokoh Aku masih di rumah dulu, adiknya yang ketujuh ini masih kecil, tetapi kedekatan antara kakak dan adik itu tetap terjalin di antara mereka (hal 37).

Malam itu adikku yang ketujuh itu masih juga menangis—tiga jam sudah....... Pelahan aku bangun dari tempat dudukku dan menghampirinya.....Kurangkul dia dan kuciumi pada pipinya yang basah. .....Ia hanya menggeleng dan menghapus air matanya di pangkuanku itu.

Tokoh Aku selalu bisa menguatkan hati adik-adiknya yang sedih maupun yang dibakar rasa emosi atas sesuatu, meskipun dia sendiri merasakan perasaan yang sama dengan adikknya (hal 69).

“Bukankah semua itu sudah terjadi, Adikku? Dan semua yang sudah terjadi tidak bisa diulangi lagi.”

“Tapi aku tak rela, Mas. Aku tak rela.”

“Engkau harus merelakan semua hal yang sudah terjadi, Adikku,” kataku.

Dan di kala itu juga aku pun merasa tak rela nenekku mendapat perawatan yang kurang cukup pada waktu menghadapi mautnya.

Kedekatannya dengan sang adiklah yang membuat sang adik juga ingin ikut merasakan apa yang dirasakan sang kakak. Tanggung jawab sang kakank pun dirasakan sebagai tanggung jawab sang adik pula (hal 70—71).

“Malam ini aku takkan tidur seperti engkau untuk kesehatan ayah.”.....

“Engkau bingung, Mas. Aku lihat engkau selalu bingung dan gugup sejak beberapa hari pulang di Blora ini.”

“Ya, Adikku, sesungguhnya begitu. Tapi engkau tak perlu memikirkan diriku.”

E. Penutup

Hubungan dalam sebuah keluarga Jawa memang sangat harmonis. Tidak ada rahasia di antara anggota keluarga. Namun, semuanya masih dibatasi oleh adat istiadat dan budaya Jawa serta unggah-ungguh yang berkembang dalam masyarakat Jawa. Hal inilah yang akan memberikan jarak di antara anggota keluarga. Orang yang lebih muda akan sangat menghormati orang yang lebih tua, sehingga tercipt suatu kesungkanan seorang adik kepada sang kakak. Inilah yang menjadikan seorang adik takut bersikap terbuka kepada kakanya yang seharusnya berposisi sebagai pengganti orang tuanya.

Namun, semua itu tidak terjadi dalam novel Bukan Pasar Malam ini. Tokoh Aku sebagai seorang kakak tertua memiliki kedekatan dengan adik-adiknya. Dia menjadi tempat bermanja-manjaan bagi semua adikknya, dia pun menjadi tempat berkeluh kesah bagi sang adik. Rasa hormat sang adik pun tetap ada untuk sang kakak.

Begitu juga hubungannya dengan sang ayah pun terjalin sangat harmonis. Ayahnya tahu berbagai hal yang dirasakan sang anak. Hubungan keluarga ini terjalin sangat harmonis. Sang anak memiliki kedekatan dengan sang ayah, tetapi tetap ada rasa hormat dari sanga anak kepada sang ayah layaknya keluarga Jawa lainnya. Mereka tetap menjunjung unggah-ungguh di dalam hubungan kekeluargaan mereka.

Daftar Pustaka

http://books.google.co.id/books?id=d8O_c9luuM0C&pg=PT49&lpg=PT49&dq=anak+laki-laki+pertama+dalam+masyarakat+Jawa&source=bl&ots (diakses pada tanggal 20 November 2010).

Toer, Pramoedya Ananta. 2007. Bukan Pasar Malam. Jakarta: Lentera Dipantara.

Minggu, 06 Maret 2011

Alih kode campur kode

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah yang berjudul Alih Kode dan Campur Kode Bahasa Arab dan Bahasa Jawa dalam Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia pada Film Perempuan Berkalung Sorban ini dapat diselesaikan dengan baik.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesainya makalah ini. Makalah ini bertujuan untuk mengetahui bentuk alih kode dan campur kode bahasa Arab dan bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia pada film Perempuan Berkalung Sorban serta faktor-faktor penyebab terjadinya alih kode dan campur kode tersebut. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Akhir kata “tiada gading yang tak retak” begitu juga dengan makalah ini, masih memerlukan banyak perbaikan dalam beberapa bagian di dalamnya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan dari para pembaca.

Surabaya, 20 November 2010

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peristiwa komunikasi merupakan peristiwa yang dialami oleh setiap orang dengan berbagai bahasa. Peristiwa komunikasi merupakan suatu peristiwa yang sangat majemuk. Komunikasi merupakan peristiwa penyampaian pesan dari komunikator (pengirim pesan) kepada komunikan (penerima pesan). Agar pesan tersebut sampai kepada komunikan, seorang komunikator harus menggunakan bahasa yang juga dipahami oleh komunikan. Ketika seorang komunikator menggunakan bahasa yang tidak dipahami oleh komunikan maka pesan yang disampaikan oleh komunikator tidak akan sampai pada komunikan. Dalam hal ini bahasa sebagai alat komunikasi mempunyai peranan yang sangat penting.

Namun, tidak semua penutur dan lawan tutur memiliki penguasaan bahasa yang sama. Sering sekali terjadi penutur harus berganti bahasa ketika akan berbicara dengan lawan tuturnya yang tidak menguasai bahasa penutur. Peralihan bahasa inilah yang disebut dengan alih kode. Peristiwa alih kode sering kali terjadi pada komunikasi dalam masyarakat Indonesia. Peristiwa alih kode tersebut bisa terjadi di pasar, di sekolah, di kampus, di kantor, bahkan alih kode sering digunakan dalam dialog film. Hal ini dikarenakan kemajemukan bahasa yang ada di Indonesia. Bahkan masih banyak lagi penyebab terjadinya alih kode.

Tidak hanya pergantian bahasa saja yang terjadi dalam peristiwa komunikasi, tetapi pencampuran antara dua bahasa pun sering kali terjadi. Pencampuran bahasa ini dilakukan karena antara penutur dan lawan tutur memiliki penguasan yang sama pada dua bahasa. Masyarakat sering kali tidak sadar ketika mereka melakukan campur kode. Sama halnya dengan alih kode, campur kode pun sering kali digunakan pada dialog film.

Dalam perfilman Indonesia, banyak sekali film yang melakukan peristiwa alih kode dan campur kode dalam dialog antar tokohnya. Hal ini terutama terjadi pada film yang mengangkat budaya Indonesia. Satu film yang menggunakan peristiwa alih kode dan campur kode dalam dialog antar tokohnya adalah film Perempuan Berkalung Sorban. Dalam film Perempuan Berkalung Sorban alih kode dan campur kode dilakukan anatara bahasa Arab dengan Bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dengan bahsa Indonesia. Oleh karena itu, dalam makalah yang berjudul Alih Kode dan Campur Kode Bahasa Arab dan Bahasa Jawa dalam Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia pada Film Perempuan Berkalung Sorban ini akan dibahas peristiwa alih kode dan campur kode pada film Perempuan Berkalung Sorban.

1.2 Rumusan Masalah

Dalam makalah ini peneliti memberikan batasan pada masalah yang akan diteliti. Masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut.

a. Bagaimana bentuk alih kode dan campur kode bahasa Arab dan bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia pada film Perempuan Berkalung Sorban?

b. Apa faktor-faktor penyebab terjadinya alih kode dan campur kode bahasa Arab dan bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia pada film Perempuan Berkalung Sorban?

1.3 Tujuan

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut.

a. Untuk mengetahui bentuk alih kode dan campur kode bahasa Arab dan bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia pada film Perempuan Berkalung Sorban.

b. Untuk faktor-faktor penyebab terjadinya alih kode dan campur kode bahasa Arab dan bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia pada film Perempuan Berkalung Sorban.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Alih Kode

A. Pengertian Alih Kode

Appel (dalam Chaer, 2004:107) mendefinisikan alih kode sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi. Berbeda dengan Appel yang mengatakan bahwa alih kode terjadi antar bahasa, Hymes (dalam Chaer, 2004: 107) mengatakan bahwa alih kode bukan hanya terjadi antar bahasa, tetapi dapat juga terjadi antara ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa.

Dari dua pengertian alih kode di depan dapat disimpulkan bahwa alih kode merupakan gejala peralihan pemakaian bahasa dan peralihan ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa karena berubahnya situasi.

B. Penyebab Terjadinya Alih Kode

Penyebab terjadinya alih kode menurut Abdul Chaer (2004: 108) adalah sebagai berikut.

1. Pembicara atau penutur.

2. Pendengar atau lawan tutur.

3. Perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga.

4. Perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya.

5. Perubahan topik pembicaraan.

Seorang pembicara atau penutur seringkali melakukan alih kode untuk mendapatkan “keuntungan” atau “manfaat” dari tindakannya itu. Hal ini bisa terjadi pada saat penutur dan lawan tutur memiliki bahasa ibu yang sama. Pembicaraan tersebut akan beralih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa daerah. Dengan berbahasa daerah rasa keakraban pun lebih mudah dijalin daripada menggunakan bahasa Indonesia.

Lawan bicara atau lawan tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode, misalnya karena si penutur ingin mengimbangi kemampuan berbahasa si lawan tutur. Dalam hal ini biasanya kemampuan berbahasa si lawan tutur kurang atau agak kurang karena memang mungkin bukan bahasa pertamanya.

Kehadiran orang ketiga atau orang lain yang tidak berlatar belakang bahasa yang sama dengan bahasa yang sedang digunakan oleh penutur dan lawan tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Status orang ketiga dalam alih kode juga menentukan bahasa atu varian yang harus digunakan.

Perubahan situasi bicara juga dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Misalnya, perubahan dari situasi formal ke informal (santai) atau sebaliknya. Hal ini akan mengakibatkan berubahnya ragam atau gaya bahasa yang digunakan. Begitu juga dengan perubahan topik pembicaraan yang dapat menyebabkan terjadinya alih kode.

2.2 Campur Kode

A. Pengertian Campur Kode

Thelander (dalam Chaer, 2004:115) mengatakan bahwa apabila di dalam suatu peristiwa tutur, klausa-klausa maupun frase-frase yang digunakan terdiri dari klausa dan frase campuran, dan masing-masing klausa atau frase tidak lagi mendukung fungsi sendiri-sendiri, maka peristiwa yang terjadi adalah campur kode. Dapat dikatakan bahwa campur kode merupakan penggunaan serpihan-serpihan bahasa lain dalam penggunaan satu bahasa.

B. Penyebab Terjadinya Campur Kode

Penyebab terjadinya campur kode adalah sebagai berikut.

1. Adanya pengaruh dari rumah.

Lingkungan rumah sangat memberikan pengaruh terhadap bahasa yang digunakan seseorang. Seorang penutur biasanya menggunakan bahasa rumah ketika berkomunikasi dengan orang luar keluarga akibat pengaruh kebiasaannya ketika berkomunikasi dengan keluarganya.

2. Adanya pengaruh pihak kedua.

Pihak kedua atau lawan tutur yang sama-sama menguasai dua bahasa yang juga dikuasai penutur menyebabkan penutur untuk mencampur dua bahasa yang dikuasainya. Dalam hal ini penutur dan lawan tutur sama-sama mengerti dengan adanya pencampuran dua bahasa (http://purnamabisnissmart.blogspot.com/).

Devi juga mengungkapkan bahwa campur kode dipengaruhi oleh unsur prestise.

Campur kode dipengaruhi oleh adanya unsur prestisei, yaitu anggapan bahwa bahasa yang satu dianggap lebih tinggi, lebih bergengsi, lebih superior atau sebaliknya bahasa itu dianggap lebih rendah dan tidak bergengsi mengakibatkan terjadinya campur kode. Hal ini sering dilakukan seseorang untuk menunjukkan eksistensinya. Jika dia ingin merendahkan orang pun biasanya menggunakan campur kode dengan bahasa yang dianggap rendah (http://doeniadevi.wordpress.com/2009/10/20/perihal-alih-kode-code-switching-dan-campur-code-code-mixinginterference-dalam-kedwibahasaan/).


BAB III

METODE DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA

3.1 Metode Penelitian

Penelitian ini dirancang secara deskriptif kualitatif karena yang akan diteliti adalah kata-kata bukan angka. Penelitian ini menekankan pada hasil yang berupa kata-kata. Hal ini dikarenakan objek yang diteliti adalah bahasa. Bahasa tidak dapat diukur dengan angka karena bahasa hanya dapat dijelaskan secara deskriptif saja.

Objek penelitian ini adalah penggunaan bahasa yang berupa kata-kata sehingga metode yang bisa digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil yang akan didapatkan adalah deskripsi wujud alih kode dan campur kode pada film Perempuan Berkalung Sorban serta faktor-faktor terjadinya alih kode dan campur kode tersebut.

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini data diambil dengan cara menyimak penggunaan bahasa yang dilakukan oleh tokoh. Teknik dasar yang dilakukan adalah teknik sadap, yaitu dengan mendengarkan penggunaan bahasa yang diucapkan tokoh. Sementara teknik lanjutan yang digunakan adalah teknik simak bebas libat cakap, yaitu menyimak dengan memperhatikan percakapan tokoh.

Selain itu, teknik pengumpulan data juga dilakukan dengan teknik pencatatan. Pencatatan data dilakukan sambil menyimak dialog tokoh. Pencatatan hanya dilakukan pada data yang akan mendukung penelitian ini saja.


BAB IV

PEMBAHASAN

2.1 Bentuk Alih Kode dan Campur Kode Bahasa Arab dan Bahasa Jawa dalam Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia pada Film Perempuan Berkalung Sorban

Dalam film Perempuan Berkalung Sorban terdapat dua masalah sosiolinguistik yang sering terjadi dalam masyarakat yang multilingual. Dua masalah sosiolinguistik tersebut adalah alih kode dan campur kode antara bahasa Arab dengan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia.

A. Bentuk Alih Kode Bahasa Arab dan Bahasa Jawa dalam Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia pada Film Perempuan Berkalung Sorban

Dalam film Perempuan Berkalung Sorban yang berlatar belakang pesantren wajar sekali adanya multilingualisme. Multilingual itu terjadi karena adanya penggunaan tiga bahasa, yaitu bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa Arab. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya alih kode. Alih kode dalam film Perempuan Berkalung Sorban ini terjadi antara bahasa Arab dengan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia.

Dalam film Perempuan Berkalung Sorban ini terdapat dua belas dialog yang menunjukkan adanya alih kode. Dalam film ini terdapat sembilan dialog yang menunjukkan adanya peristiwa alih kode antara bahasa Arab dengan bahasa Indonesia. Dalam dialog-dialog tersebut terjadi peralihan penggunaan bahasa, yaitu dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia atau sebaliknya. Sementara terdapat tiga dialog yang menunjukkan adanya alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa atau sebaliknya.

Satu contoh dialog yang menunjukkan adanya alih kode dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

Anisa : “Islam nggak adil sama perempuan.”

Aisyah: “Intahbih Nisa.” (Jangan bicara sembarangan Nisa.)

Laauna wa alai.” (Kualat kamu.)

Anisa : “Terus apa namanya kalau nggak adil?”

Aisyah: “Eh Nis, si Aminah udah taaruf, katanya cowoknya ganteng.”

Pada contoh di depan Aisyah melakukan alih kode dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Hal ini disesabkan terjadinya perubahan topik pembicaraan.

Sementara contoh dialog yang menunjukkan adanya alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa adalah sebagai berikut.

Ustad Ali : “Ada apa ini?”

Syamsudin: “Anisa berzinah.”

Kyai : “Nisa?”

Anisa : “Bohong abi.”

Kyai : “Apa buktinya Anisa berzinah?”

Syamsudin : “Takonono karo wong loro kuwi!” (Tanyakan pada dua orang itu!)

Pada contoh di depan Syamsudin melakukan alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. Hal itu dikarenakan Syamsudin ingin mengakrabkan diri dengan Kyai karena dia mempunyai maksud tertentu, yaitu ingin menunjukkan bahwa Anisah selingkuh.

B. Bentuk Campur Kode Bahasa arab dan Bahasa Jawa dalam Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia pada Film Perempuan Berkalung Sorban

Sama halnya dengan alih kode dalam film Perempuan Berkalung Sorban ini, peristiwa campur kode juga terjadi karena adanya multilingualisme. Campur kode dalam film ini terjadi antara bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia dengan bahasa Arab.

Campur kode dalam film Perempuan Berkalung Sorban ini terdapat dalam dua tataran, yaitu tataran kata dan frasa. Dalam film Perempuan Berkalung Sorban ini terdapat sembilan dialog yang menunjukkan adanya campur kode pada tataran kata. Sementara terdapat dua dialog yang menunjukkan adanya campur kode pada tataran frasa.

Berikut satu contoh dialog yang menunjukkan adanya campur kode pada tataran kata.

Khudori: “Nih minum tehnya. Kamu itu ngetik terus.”

Anisa : “ Syukron ya lek.” (Terima kasih ya lek.)

Pada contoh di depan Anisa melakukan campur kode dengan mengucapkan kata syukron yang berasal dari bahasa Arab yang artinya terima kasih.

Satu contoh dialog dari beberapa dialog yang menunjukkan adanya campur kode pada tatarn frasa adalah sebagai berikut.

Nyai : “Anisa!”

Anisa: “Ya umi, istai qitu.” (Ya umi, tunggu sebentar.)

Contoh di depan menunjukkan bahwa Anisa melakukan campur kode dengan mengucapkan istai qitu. Hadirnya frasa istai qitu menyebabkan terjadinya campur kode, karena istai qitu merupakan frasa yang berasal dari bahasa Arab yang berarti tunggu sebentar.

2.2 Faktor Penyebab Terjadinya Alih Kode dan Campur Kode Bahasa Arab dan Bahasa Jawa dalam Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia pada Film Perempuan Berkalung Sorban

Adanya alih kode dan campur kode dalam proses berkomunikasi sering kali tidak disadari oleh pelakunya. Alih kode dan campur kode terjadi karena berbagai sebab. Sebab-sebab itu terjadi dari sisi si penutur, lawan tutur, situasi, ataupun adanya pihak lain yang hadir dalam komunikasi tersebut, bahkan sebab tersebut dapat timbul dari topik yang sedang dibicarakan.

A. Faktor Penyebab Terjadinya Alih Kode Bahasa Arab dan Bahasa Jawa dalam Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia pada Film Perempuan Berkalung Sorban

Terjadinya suatu peristiwa alih kode terkadang tidak disadari oleh para pelakunya. Tetapi semua peristiwa alih kode tersebut mempunyai sebab-sebab tersendiri. Begitu pula peristiwa alih kode dalam film Perempuan Berkalung Sorban juga mempunyai beberapa sebab. Faktor penyebab terjadinya alih kode bahasa Arab dan Bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia akan dipaparkan secara rinci sebagai berikut.

1. Pembicara atau penutur ingin lebih akrab dengan lawan tutur

Terdapat dua dialog yang menunjukkan alih kode tersebut dilakukan dari faktor pembicara atau penutur. Pembicara atau penutur melakukan alih kode dengan maksud tertentu.

Contoh dialog yang menunjukkan alih kode dilakukan karena faktor penutur.

Anisa: “Ih, umi nggak adil.”

Nyai : “ Nis, kowe iku knopo toh?”

Nglawan terus sama umi sama abi.”

Pada dialog di depan Nyai melakukan alih kode dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Hal itu dilakukan karena Nyai ingin lebih akrab dengan anaknya, Anisa. Dia mengucapkan kalimat Nis, kowe iku knopo toh? yang merupakan bahasa Jawa yang berarti Nis, kamu itu kenapa sih?. Nyai ingin mendekatkan dirinya dengan Anisa dan bertanya apa yang terjadi pada Anisa. Oleh karena itu, dia lebih memilih menggunakan bahasa Jawa daripada bahasa Indonesia agar terjalin keakraban, sebab Anisa sendiri juga bisa berbahasa Jawa.

Contoh dialog kedua yang menunjukkan adanya alih kode dengan sebab penutur adalah sebagai berikut.

Ustad Ali : “Ada apa ini?”

Syamsudin: “Anisa berzinah.”

Kyai : “Nisa?”

Anisa : “Bohong abi.”

Kyai : “Apa buktinya Anisa berzinah?”

Syamsudin : “Takonono karo wong loro kuwi!

Dialog di atas menunjukkan bahwa Syamsudin melakukan alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa, yaitu dengan mengucapkan Takonono karo wong loro kuwi! yang artinya tanyakan pada dua orang itu! . Hal itu dikarenakan Syamsudin ingin mengakrabkan diri dengan Kyai karena dia mempunyai maksud tertentu, yaitu ingin menunjukkan bahwa Anisah selingkuh.

2. Pembicara atau penutur ingin meredam suasana

Selain pembicara atau penutur ingin mengakrabkan diri dengan lawan tutur, alih kode juga dilakukan penutur untuk meredam suasana yang kacau.

Kyai : “Jangan bawa-bawa Allah!”

Nyai : “ Udah-udah ini salah umi.”

Anisa : “ Ndak abi ini salah Anisa bukan salah umi.”

Kyai : “ Usqoti!

“ Siapa yang mau menitipkan anaknya di pesantren ini?”

Kyai melakukan alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Arab dengan mengucapkan “ Usqoti! ” yang artinya “diam”. Kyai mengucapkan usqoti untuk meredam suasana antara Anisa dan Nyai yng saling menyalahkan. Kyai mengucapkan bahasa Arab karena Anisa dan Nyai juga mengerti bahasa Arab.

Contoh yang kedua adalah sebagai berikut.

Para santri: “Rajam, rajam, rajam!!!”

Nyai : “Usqotu, usqotu, usqotu!!!” (Diam semua!)

“Ada apa ini?”

Kata usqotu yang diucapkan Nyai menunjukkan bahwa Nyai telah melakukan alih kode. Nyai melakukan alih kode dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Dengan menggunakan bahasa Arab, Nyai berharap bisa meredam susana yang kacau. Hal itu dikarenakan semua santri mengerti bahasa arab.

Contoh yang ketiga adalah sebagai berikut.

Anisa: “Orang tahu mana yang benar itu lewat buku.”

Reza : “Itu semua udah ada di kitab Nis. Tidak perlu buku modern.”

Anisa: “Apa yang salah dengan buku modern?”

Reza : “Salah Nis.”

Nyai : “Usqotu!” (Diam semua!)

“Apa kalian tidak bisa bersikap sebagai orang teladan?”

Dialog tersebut menunjukkan bahwa Nyai telah melakukan alih kode dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Sama halnya dengan contoh kedua Nyai melakukan alih kode juga untuk meredam suasana yang kacau. Anisa dan Reza juga mengerti bahasa Arab yang dikuasai Nyai.

3. Perubahan topik pembicaraan

Beralihnya topik pembicaraab juga dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa dialog dalam film Perempuan Berkalung Sorban.

Berikut adalah contoh dialog yang menunjukkan adanya alih kode karena perubahan topik pembicaraan.

Anisa : “Islam nggak adil sama perempuan.”

Aisyah: “Intahbih Nisa.” (Jangan bicara sembarangan Nisa.)

Laauna wa alai.” (Kualat kamu.)

Anisa : “Terus apa namanya kalau nggak adil?”

Aisyah: “Eh Nis, si Aminah udah taaruf, katanya cowoknya ganteng.”

Aisyah melakukan alih kode ketika topik pembicaraannya berubah, yaitu dari topik Islam ke topik temannya yang taaruf. Ketika membicaraan tentang Islam dia menggunakan bahasa Arab. Hal ini dilakukan karena Islam identik dengan bahasa Arab. Selain itu Aisyah juga ingin memperhalus kata-katanya kepada Anisa dengan menggunakan bahasa Arab. Namun, ketika berbicara tentang temannya yang sedang taaruf Aisyah lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa Arab. Hal ini dikarenakan topik pembicaraannya tidak sepenting saat membicarakan tentang agama. Perubahan situasi pembicaraan dari formal ke informal pun menjadi sebab terjadinya alih kode yang dilakukan Aisyah.

Contoh kedua yang menunjukkan adanya alih kode karena perubahan topik pembicaraan juga terdapat pada dialog berikut ini.

Ulfa : “Ukhti, unqin akhtari kitab staniya?” (Mbak, mau pinjam buku lagi dong?)

Santri lain: “Na’am ukhti.” (Ya, mbak.)

Ulfa : “Quratu hadzal kitab staras maroti qouron.” (Aku sudah membaca buku ini tiga kali.)

Santri lain: “Wa ana urid akhtari kitab aidan?” (Saya juga mau pinjam mbak.)

Ulfa : “ Ukhti kenapa kita tidak bangun perpustakaan saja?”

Anisa : “Kenapa kalian tidak menulis sendiri, lalu saling tukar tulisan?”

Ulfa : “Itu sudah sering ukhti. Tolong bilangin kepada ustad Reza untuk membangun perpustakaan.”

Ulfa dan para santri memilih menggunakan bahasa Arab saat ingin meminjam buku kepada Anisa, tetapi saat berbicara tentang perpustakaan, masalah yang cukup serius di pesantren Al-Huda tersebut Ulfa memilih menggunakan bahasa Indonesia. Peralihan bahasa yang dilakukan Ulfa tersebut termasuk alih kode yang disebabkan oleh beralihnya topik pembicaraan. Topik tersebut beralih dari informal (masalah meminjam buku) ke formal (masalah pembangunan perpustakaan).

Contoh ketiga yang nenunjukkan alih kode karena perubahan topik pembicaraan juga terdapat pada dialog Syamsudin.

Syamsudin: “Yang penting pesantren itu besar. Itu yang diinginkan bapakku. Walau bagaimanapun kita ini tetap saudara, ya tho.”

Cicilan iku iso dibayar sak durunge akhir bulan, ngunu lho. Soale duwek iku dienggo nggedhekne pesantrene bapakku.”

Dialog di depan menunjukkan bahwa Syamsudin melakukan alih kode dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia karena perubahan topik pembicaraan, yaitu dari topik pesantren beralih ke topik pembayaran hutang.

4. Pengaruh lawan tutur

Terdapat satu dialog yang menunjukkan bahwa alih kode dilakukan dengan sebab pengaruh lawan tutur yang tertuang dalam pembicaraan antara Anisa dengan Ulfa.

Anisa: “Kalau kalian benar-benar serius mau bikin perpustakaan ana akan bantu. Karena ana akan di sini terus. Tapi ingat jangan ada yang kabur lagi ya!”

Ulfa : “Far akhrojana Kyai kaifa?” (Bagaimana kalau Kyai mengeluarkan kami?)

Anisa: “Kuntu nashiron lakun.” (Mbak akan bantu kalian.)

Anisa yang pada awalnya menggunakan bahasa Indonesia saat berkomunikasi dengan Ulfa beralih menggunakan bahasa Arab karena terpengaruh oleh Ulfa yang menggunakan bahasa Arab. Hal ini dilakukan Anisa karena dia ingin mengimbangi bahassa yang digunakan Ulfa.

5. Memberi perintah

Faktor lain penyebab terjadinya alih kode adalah penutur ingin memberikan perintah kepada lawan tutur. Dalam film Perempuan berkalung Sorban terdapat dua dialog yang menunjukkan bahwa alih kode dilakukan karena penutur ingin memberikan perintah kepada lawan tutur.

Dialog pertama yang menunjukkan bahwa alih kode dilakukan karena penutur ingin memberikan perintah kepada lawan tutur ditunjukkan dengan dialog Ustadzah dan Sari.

Nyai Syarifah: “Sari, kamu baca buku apa?”

Sari : “Ndak Nyi.”

Nyai Syarifah: “Aina kitab! Aina kitab!” (Sini bukunya! Sini bukunya!)

Untuk memberikan perintah kepada Sari, Nyai Syarifah memberikan perintah dalam bahasa Arab.

Berikut dialog kedua yang menunjukkan bahwa alih kode dilakukan untuk memberikan perintah kepada lawan tutur.

Kyai Ali: “Astagfirullahaladzim. Satu orang santri ketangkap lagi.”

Ta’aluna! Ta’al!” (Bawa masuk! Bawa!)

Dialog di depan menunjukkan bahwa Kyai Ali memberikan perintah kepada lawan tutur dengan bahasa Arab.

6. Penegasan

Pada film Perempuan Berkalung Sorban alih kode juga dilakukan untuk memberikan penegasan. Hal itu tercermin dari pembicaraan Anisa dan Ulfa.

Anisa: “Kalian harus buat pesantren nyaman!”

Ulfa : “Tapi ukhti.”

Anisa: “Bantu ukhti melakukan perubahan!”

Ulfa : “Laauna arji’ ukhti. Ana ura faqot.” (Kami tidak mau pulang mbak. Saya mau di sini.)

Anisa: “Kalian harus pulang.”

Ulfa : “La ukhti.” (Tidak mbak.)

Ulfa melakukan peralihan bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa Arab untuk menegaskan bahwa dia tidak mau pulang ke pesantren.

B. Faktor Penyebab Terjadinya Campur Kode Bahasa Arab dan Bahasa Jawa dalam Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia pada Film Perempuan Berkalung Sorban

Sama halnya dengan alih kode, campur kode pun dilakukan oleh masyarakat yang bilingual atau multilingual. Mereka melakukan pencampuran bahasa untuk memudahkan komunikasi mereka. Pencampuran bahasa itu adalah sebuah peristiwa campur kode. Terjadinya campur kode dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.

1. Pengaruh pihak kedua

Seseorang melakukan campur kode terkadang karena terpengaruh oleh pihak kedua atau lawan bicara. Hal itu seperti tampak pada film Perempuan Berkalung Sorban. Terdapat bebarapa dialog yang menunjukkan bahwa campur kode dilakukan karena pengaruh orang kedua.

Nyai : “Berapa kali Umi bilang anak perempuan tidak boleh pencilakan.”

Anisa : “Anisa tidak pencilakan.”

Nyai : “Itu namanya pencilakan.”

Anisa : “Itu mas Wildan aja boleh.”

Nyai : “Mereka itu cah lanang gak po-po.”

Pada dialog di depan tampak bahwa terjadinya campur kode yang dilakukan Anisa karena terpengaruh ibunya dan untuk menyesuaikan diri dengan ibunya sehingga dia ikut mengucapkan kata pencilakan yang merupakan bahasa Jawa.

2. Penutur ingin menasihati lawan tutur

Orang tua yang ingin menasehati anaknya terutama orang tua yang berlatar belakang sebagai orang Jawa terkadang menasihati anaknya dengan istilah Jawa. Nasihat itu lebih enak diucapkan apabila menggunakan bahasa Jawa. Dalam film Perempuan Berkalung Sorban ini yang notabene berlatar belakang Jawa, Nyai yang berperan sebagai ibu Anisa juga melakukan hal yang sama. Dia menasehati Anisa dengan bahasa Jawa.

Anisa : “Anisa mau naik kuda.”

Nyai : “Jangan bicara sambil makan! Gak ilok.

Pada dialog di depan Nyai yang merupakan ibu dari Anisa menasihati Anisa dengan bahasa Jawa dengan mengucapkan frasa gak ilok yang artinya tidak baik.

3. Unsur prestise

Seseorang terkadang menganggap satu bahasa lebih tinggi dari bahasa lain. Bahasa tersebut dianggap lebih superior, lebih bergengsi, dan lebih bangga untuk digunakan. Sama seperti yang dilakukan oleh Anisa.

Nyai : “Anisa...”

Anisa : “Ya Umi, istai qitu.”

Dialog di atas menunjukkan bahwa Anisa melakukan campur kode dengan menyisipkan frasa istai qitu yang merupakan bahasa Arab dalam komunikasinya dengan bahasa Indonesia. Anisa lebih bangga mengucapkan frasa “tunggu sebentar” dengan frasa “istai qitu” yang merupakan bahasa Arab.

Pada saat Anisa berbicara dengan suaminya, Khudori dia pun terkadang menggunakan bahasa Arab. Anisa mengganggap bahwa bahasa Arab tersebut lebih bergengsi daripada bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Selain itu, Anisa juga ingin menunjukkan pada Khudori bahwa dia juga menguasai bahasa Arab seperti Khudori. Dialog tersebut adalah sebagai berikut.

Khudori : “Nih, minum tehnya. Kamu tuh ngetik terus.”

Anisa : “Syukron ya Lek.” (Terima kasih ya Lek.)

Kata syukron yang diucapkan Anisa mengakibatkan adanya campur kode karena Anisa lebih bangga menggunakan bahasa Arab daripada bahasa Indonesia atau bahasa Jawa.

4. Unsur sapaan

Masyarakat bilingual atau multilingual terkadang menyapa lawan bicaranya dengan sapaan dari bahasa lain yang dikuasai. Unsur sapaan terhadap lawan bicara diucapkan dengan menggunakan bahasa yang tidak sama dengan yang digunakannya pada saat berkomunikasi. Hal ini pun terjadi dalam film Perempuan Berkalung Sorban. Terdapat beberapa dialog yang menunjukkan bahwa campur kode itu dilakukan karena penutur ingin menyapa lawan tutur dengan bahasa lain yang dikuasainya.

Contoh pertama dialog yang menunjukkan bahwa campur kode dilakukan karena unsur sapaan yang berasal dari bahasa lain.

Para santri : “Kowe jangan macam-macam! Mau tak hajar kowe?”

Pengganggu : “Ampun Mas.”

Para santri menyapa pengganggu menggunakan bahasa Jawa, yaitu kowe yang berarti kamu. Kata kowe itu yang menyebabkan terjadinya campur kode.

Sama halnya dengan contoh pertama, contoh berikut juga menunjukkan bahwa campur kode dilakukan karena adanya unsur sapaan yang berasal dari bahasa lain.

Kyai : “Anakku Mas.”

Kakak Kyai: “Jadi anak sampeyan yang ini toh yang akan menggantikan sampeyan memimpin pesantren ini.

Kyai : “Insyaallah Mas.”

Kakak Kyai menyapa Kyai dengan menggunakan bahasa Jawa, yaitu dengan kata sampeyan yang artinya kamu. Penggunaan kata sampeyan tersebut menyebabkan terjadinya campur kode.

Selain sapaan dalam bahasa Jawa, dalam film Perempuan Berkalung Sorban ini juga terdapat sapaan dalam bahasa Arab. Terdapat dua dialog yang menunjukkan adanya sapaan dalam bahasa Arab.

(1) Para santri : “ Maaf ukhti , kita baru kali ini kok bolos.”

Anisa : “ Bolos?”

Ulfa : “Ya ukhti. Kita Cuma mau beli majalah aja kok.”

Anisa : “Tenang, tenang, ana, juga nggak mau balik ke sana lagi kok.”

(2) Ulfa : “Ukhti...

Anisa : “Nih dibagiin, ana udah telpon teman ana di Yogya.”

Dari data (1) dan data (2) terlihat bahwa para santri dan Ulfa menyapa Anisa dengan sebutan ukhti yang berasal dari bahasa Arab. Ukhti tersebut berarti mbak atau kakak. Begitu juga dengan Anisa yang menyebut dirinya dengan kata ana yang merupakan bahasa Arab yang berarti “saya”.

5. Penutur ingin memaki lawan tutur

Seseorang yang ingin memaki orang lain biasanya lebih leluasa jika memaki dengan bahasa ibu mereka, yang mungkin bahasa itu tidak dimengerti oleh lawan tuturnya. Hal ini yang terjadi pada film Perempuan Berkalung Sorban. Para tokoh yang ingin memaki orang lain lebih memilih untuk menggunakan bahasa ibu mereka, yaitu bahasa Jawa untuk mengungkapkan makian itu.

Syamsudin memaki Anisa, istrinya sebagai pelacur dengan kata lonte yang merupakan bahasa Jawa. Dengan adanya kata lonte dalam kalimat Syamsudin menyebabkan terjadinya campur kode.

Syamsudin : “E, lonte, apa?”

Anisa : “Mas, jangan Mas! Lepas Mas, lepasin Mas!

Data kedua yang menunjukkan adanya campur kode karena keinginan memaki oleh penutur juga terlihat pada dialog di bawah ini.

Syamsudin: “Ya, aku mau menjalankan sunnah Rosul. Di Islam menikahi janda itu kan bagus.”

Wildan : “Edan kamu Syam. Ojo kurang ajar!”

Kata edan yang diucapkan oleh Wildan tersebut merupakan makian yang berarti “gila”. Wildan lebih leluasa memaki dengan kata edan karena makian itu akan lebih terasa seperti makian yang kasar dibanding dengan menggunakan kata “gila”.

6. Terbawa kebiasaan rumah

Dalam berkomunikasi dengan orang di luar anggota keluarganya, seseorang sering terbiasa berbicara dengan bahasa yang sering dia gubakan di rumah. Begitu pula yang terjadi dengan Anisa dalam film Perempuan Berkalung Sorban. Dia terbiasa menggunakan bahasa Jawa krama saat berkomunikasi dengan orang tua yang dihormatinya. Saat berbicara dengan dokter yang juga dihormati oleh Anisa, maka Anisa juga terbawa untuk berbicara dengan bahasa Jawa krama. Hal ini ditunjukkan dalam dialog di bawah ini.

Dokter : “Tuh, tuh, belum ada perubahan tho dari bulan lalu. Rahim kamu itu ada kelainan, bisa menyebabkan keguguran.”

Anisa : “ Trus pripun dok?” (Trus bagaimana dok?)


BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Pada film Perempuan Berkalung Sorban ini ditemukan dialog-dialog yang menunjukkan adanya alih kode dan campur kode. Terdapat dua belas dialog yang menunjukkan terjadinya peristiwa alih kode. Alih kode tersebut terjadi antara bahasa Arab dengan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia. Sementara campur kode terdapat dalam dua tataran, yaitu tataran kata dan tataran frasa. Campur kode dalam tataran kata ditunjukkan melalui 11 dialog, dengan rincian 9 dialog yang menunjukkan campur kode dalam tataran kata dan 2 dialog yang menunjukkan campur kode dalam tataran frasa.

Faktor-faktor penyebab terjadinya alih kode dalam film Perempuan Berkalung Sorban adalah pembicara/penutur ingin lebih akrab dengan lawan tutur, pembicara/penutur ingin meredam suasana, perubahan topik pembicaraan, pengaruh lawan tutur, memberi perintah, dan penegasan. Sementara faktor-faktor penyebab terjadinya campur kode dalam film Perempuan Berkalung Sorban adalah pengaruh pihak kedua, penutur ingin menasihati lawan tutur, unsur prestise, unsur sapaan, penutur ingin memaki lawan tutur, dan pengaruh kebiasaan dari rumah.

5.2 Saran

Alih kode dan campur kode seharusnya digunakan pada kondisi dan situasi yang tepat. Campur kode seharusnya hanya digunakan pada situasi informal saja sementara pada situasi formal seharusnya menggunakan bahasa Indonesia yang baku.


DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul dan Agustina, Leoni. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

http://doeniadevi.wordpress.com/2009/10/20/perihal-alih-kode-code-switching-dan-campur-code-code-mixinginterference-dalam-kedwibahasaan/ (diakses pada tanggal 20 Desember 2010).

http://purnamabisnissmart.blogspot.com/ (diakses pada tanggal 20 Desember 2010).


ALIH KODE DAN CAMPUR KODE BAHASA ARAB

DAN BAHASA JAWA DALAM BERKOMUNIKASI

DENGAN BAHASA INDONESIA

PADA FILM PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN




Oleh:

AFIYAH NUR KAYATI (082074225)

FARIDATUS ZULFA (082074206)

PB-2008

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

DESEMBER 2010

RPP DAN SILABUS SMP VIII




Oleh

OKCY NANDA NUGRAHA

082074222

PB-2008

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

DESEMBER 2010